INILAH KISAH UNTUK DIRENUNGKAN !!! KISAH ANAK DURHAKA YANG DIAZAB SANGAT PEDIH DUNIA !!! AMBILAH PELAJARAN DARI KISAH INI !!! SEMOGA MENJADI ANAK YANG SOLEH DAN SHOLEHAH !!!



Sang ayah meninggalkan harta waris yang lumayan besar pada anak semata wayang serta istrnya ketika meninggal dunia. Harta itu dipakai dengan sangat baik sampai bermanfaat untuk membiayai pendidikan anak lelakinya hingga lulus. Takdir semakin berpihak pada keluarga itu saat si Tamo, sebut saja demikian, sukses memperoleh pekerjaan bergengsi dengan gaji besar.

Kehidupan keluarga kecil itu semakin bercahaya bersamaan berjalannya saat. Sang ibu yang menginginkan kebahagiaannya semakin sempurna bergegas mencarikan calon istri untuk Tamo, anak kebanggaannya. Walau pilihannya tidak di setujui, Tamo pada akhirnya menikah dengan wanita baik hati serta dikaruniai dua anak yang menyejukkan pandangan.

Wanita baik hati ini benar-benar menyayangi ke-2 cucunya, melebihi rasa sayang ke-2 orang tuanya. Tetapi, bersamaan berlalunya waktu, umur senja memanglah tidak dapat dipungkiri. Di sinilah, kisahnya bermula.

Tamo terasa kerepotan dengan tingkah ibunya yang sudah senja. Dia tidak dapat mengurusi serta malas menyewa pembantu. Akhirnya, sang bunda yang baik hati di kirim ke panti jompo. Dalihnya, negara sediakan fasilitas. Mesti digunakan. Padahal, harta Tamo sangat banyak. Begitu dapat bila cuma menyewa pembantu di rumahnya.

Mendengar langkah yang di ambil Tamo, beberapa kerabat serta tetangga menyebutkan ketidaksetujuan. Mengirim ibu kandung ke panti jompo yaitu tindakan buruk yang mencerminkan kedurhakaan.

Tamo terasa sesak. Serasa terjepit. Namun, pendiriannya kokoh. Pada akhirnya, dia mendatangi satu diantara sahabat curhatnya. Selepas mengeluhkan perlakuan kerabatnya, sahabat curhat yang diinginkan mendukung malah mencela tindakan Tamo.

Tamo makin kesal. Marah besar. Lalu meninggalkan rumah sahabatnya tanpa ada merubah pendiriannya. Ibunya tetaplah ditaruh di panti jompo tanpa ada dijenguk serta di perhatikan. Walau sebenarnya, wanita suci itu dalam keadaan sakit akut.

Berjalannya saat dipakai Tamo untuk makin menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Bahkan juga, ketika hingga berita kalau ibunya tengah alami sakaratul maut, dia pergi ke luar negeri tanpa ada sepengetahuan keluarga serta orang dekatnya.

Terlepas usai semua masalah terkait jenazah, Tamo pulang dengan perasaan datar. Seperti tak berlangsung apa-apa di keluarganya. Dia tak sadar. Ada azab pedih yang sudah disediakan oleh Allah Ta’ala, didunia ini. Dalam waktu dekat.

Istri yang disayanginya serta anak bungsunya alami kecelakaan sangat tragis. Tidak banyak cerita, keduanya meninggal ditempat kecelakaan. Tamo cuma dapat menangis seperti menyesali mentari sore yang tidak mungkin kembali pada arah timur.

Belum sembuh luka perih nan pedih itu, anak pertama yang jadikan sebagai tangan kanan untuk mengurus semua usahanya juga menderita sakit. Sakitnya aneh. Tak di ketahui penyakitnya. Dia berkeliling dari satu negara ke negara lain untuk memberi pengobatan. Namun, semua percuma.

Tinta taqdir sudah mengering. Semua tidak dapat dikembalikan. Anak sulungnya meninggal mengenaskan. Tamo makin terpuruk saat lihat usahanya hancur. Karayawannya kabur, asetnya dimaling oleh staf serta beberapa orang kepercayaan. Semuanya yang dia bangun runtuh seketika pas di hadapannya. Dia tidak kuasa berbuat apa-apa.

Ya Allah, ampunilah dosa kami serta dosa kedua orangtua kami. Sayangilah keduanya seperti sayang keduanya pada kami ketika kami masihlah belia. Aamiin.
Share on Google Plus

About Sartika Dewi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.